Fansub

Fansub

Fansub (Kependekan dari fan-subtitled) adalah versi dari acara televisi yang telah dialihbahasakan oleh para penggemar dan telah diberi teks terjemahan dalam bahasa selain bahasa aslinya. Materi yang paling umum dalam fansub berbahasa Inggris adalah Anime Jepang. Fenomena yang serupa berlaku juga dalam bahasa secara umum selain bahasa Inggris.

Karena tindakan pendistribusian “materi yang disubtitle oleh fan” merupakan pelanggaran hak cipta di beberapa negara, implikasi dari kegiatan produksi, distribusi, dan menonton fansub adalah topik yang penuh kontroversi sepanjang masa, meskipun faktanya kelompok fansub tidak mengambil keuntungan finansial dari kegiatan mereka, dan dalam banyak kasus menghentikan distribusi apabila pekerjaan mereka menjadi materi terlisensi dalam region bersangkutan.

Fansub sendiri merupakan sebuah komunitas berisikan orang-orang yang mengedit film, memberi subtitle dari file mentah film yang mereka dapatkan, mengkompresnya menjadi file yang lebih kecil, kemudian menguploadnya di internet dan film editan tersebut dapat kita didownload dengan gratis. Apakah ini termasuk salah satu pembajakan? Jawabannya adalah tidak, Kemudian apakah yang menonton Film hasil download-tan itu dapat terjerat dengan hukum perlindungan harta kekayaan intelektual ataupun yang lain? Jawabannya juga tidak. Fansub bukan seperti cracker, hacker dan lain-lain mereka hanyalah komunitas pecinta film yang ingin membagi film kepada pecinta film di seluruh dunia. Fansub juga merupakan salah satu aset bagi rumah produksi untuk merekrut sumber daya baru yang berkualitas. Fansub dilarang untuk mengambil keuntungan dari film tersebut, misalnya menghilangkan credit, sponsor, atau menjualnya. Persyaratan lainnya yang harus di jalankan oleh fansub adalah tidak boleh mempublishkan film yang episodenya belum tayang di stasiun TV yang lebih di kenal dengan istilah Original Air Date.

Pada situs-situs fansub kita dapat mengetahui kapan suatu file akan dapat kita download yaitu dengan melihat kalendar Original Air Date di stasiun TV yang menayangkannya. Untuk satu Film saja misalkan kita ambil contoh anime yang sedang populer di jepang yang di produksi oleh Fansub Dattebayo yaitu Naruto Sipuunden dan Bleach mempunyai lebih dari 10 funsub yang berbeda-beda. Tentu saja jika di dilihat dari ukuran file, extensi file, dan Translate pada pemberian subtitlenya akan berbeda, belum lagi penempatan file. Satu situs fansub biasanya menyimpan lebih dari satu filenya pada server yang berbeda-beda dengan tujuan backup data dan membagi trafik download. Bagi situs Fansub yang besar biasanya memiliki menempatkan file nya pada hosting mereka sendiri, tapi bagi yang kecil biasanya menempatkan file mereka pada situs – situs file sharing , seperti Zshare, Rapidshare, megaupload dan lain-lain.

Content pada situs Fansub sendiri memberikan penjelasan tentang film yang di uploadnya, mulai dari tokoh, klan, aksesoris, pakaian, tool seperti senjata, logo dan lain – lain sesuai dengan jalannya cerita anime. Adapun fasilitas download disini adalah download manga, download anime, download wallpaper, download Soundtrack dan tidak ketinggalan kreasi dari Fansub sendiri.

Keuntungan adanya situs fansub adalah lebih memudahkan kita mengetahui jalannya cerita, karena disini di bahas tentang asal usul cerita. Keuntungan lainnya kita dapat mengikuti cerita tanpa harus takut ketinggalan episode, karena semua dapat di download kapan saja.

Pada situs fansub kadang kala di berikan oleh rumah produksi file mentah yang tidak di tayangkan di televisi, tujuannya adalah untuk mempromosikan DVD yang akan di terbitkan oleh rumah produksi tersebut pada episode berikutnya.
Saya berharap dengan penjelasan saya ini, tidak ada yang merasa berdosa karena telah menikmati hasil bajakan, karena jika mendownload dari situs-situs Fansub maka kita terbebas dari proses bajak membajak.

Fansub juga tidak hanya pada anime saja, tetapi juga pada komiknya, tapi biasanya pada komik ada isi kontent yang dikurangi, atau mereka tidak memberikan file ending dari suatu komik, dengan tujuan promosi, Sehingga mau tidak mau bagi penggemar komik tersebut harus membeli komik yang sah jika ingin mengetahui kelanjutan ataupun ending dari cerita di komik tersebut. Hal ini lah yang dilakuakn oleh rumah produksi komik terbesar di jepang yaitu Shonen, Kodansha dan masih banyak lagi penerbit lainnya.

Evolusi Fansub

Fansub bermula ketika ledakan produksi anime sekitar tahun 1980-an di Jepang. Pada saat itu relatif sedikit judul yang terlisensi untuk didistribusikan di luar Jepang. Hal ini membuat fans Anime di seluas dunia kesulitan untuk mendapatkan judul-judul baru. Beberapa fans, pada umumnya mereka yang sanggup berbahasa Jepang, mulai memproduksi anime bersubtitle amatiran agar dapat dibagikan kepada rekan-rekan sesama pecinta Anime Jepang – yang tidak dapat berbahasa Jepang. Agar terhindar dari masalah legalitas, maka fansub menerapkan prinsip “distribusi tanpa mengambil keuntungan”.

Media pertama yang dipergunakan untuk mendistribusikan fansub adalah VHS. Tentu saja media demikian membuat Anime yang didistribusikan rendah secara kualitas, memakan waktu lama dalam produksi, susah didapatkan, dan mahal! (sekitar US$4000 di tahun 1986). Dibuat dalam jumlah terbatas dan didistribusikan ke kelompok-kelompok pecinta anime lokal melalui jasa ekspedisi. Seorang fans dapat memperoleh anime dengan harga yang pantas, atau dapat juga menghubungi kelompok yang bersangkutan untuk mendapatkan kopi dari fansub dengan menggunakan video kaset blank milik mereka sendiri.

Namun, melalui kemajuan dan semakin umumnya akses Internet berkecepatan tinggi, video editing, dan DVD ripping desktop, metode asli dalam produksi fansub telah ditinggalkan dan diganti menjadi digital fansubbing (digisubbing) dan menggunakan metode distribusi elektronik sebagai hasil dari digisub. Hal ini memungkinkan proses pembuatan fansub yang semula sangat susah, sangat lambat dan dengan hasil kualitas rendahan menjadi lebih murah, mudah dan cepat dan dengan kualitas terbaik yang bisa dibuat, bahkan bisa dibandingkan dengan kualitas aslinya. Beberapa kelompok bahkan menrilis dalam kualitas HD.

Meskipun demikian, sebagian besar fansub membuat rilisnya jauh dibawah kualitas DVD, sering kali dengan channel suara lebih sedikit dan kualitas gambar lebih rendah. Ini disebabkan karena fansub mengambil material yang berasal dari rekaman TV. Bahkan fansub yang menggunakan materi berasal dari DVD pun mempunyai kualitas yang lebih rendah. Ini disebabkan karena standard ukuran file : 175 MB, 233 MB, dan 350 MB. Standart tersebut diterapkan oleh fansub karena itu adalah angka yang genap dibagi dalam medium 700Mb – ukuran standard kebanyakan CD-R. Sejak diperkenalkan medium DVD, ukuran 172 MB dan 344 MB juga dipergunakan, ini memungkinkan anime sepanjang 13 atau 26 episode (satu season) untuk muat ke dalam satu keping DVD. Namun, sejak sebagian besar dari digisub menggunakan metode kompresi MPEG-4 yang lebih bagus, dibandingkan dengan metode kompresi MPEG-2 yang digunakan dalam DVD, pernedaan kualitas dengan DVD asli menjadi semakin tipis meskipun ukuran filenya lebih kecil.

Digisub sekarang berada pada titik kualitas dan pada tingkat aksesibilitas yang sedemikian tinggi, meskipun anjuran yang diberikan fansub untuk membeli kopi asli dari Anime sering kali dilanggar namun penelitian yang dibuat dari Yale Economic Review menunjukkan bahwa orang-orang yang mendownload fansub juga membeli originalnya bahkan tidak kurang dari orang yang tidak mendownload fansub. Kesimpulan ini kemudian menjadi pertanyaan serius. Stabilitas perekonomian di Amerika Serikat dan Jepang sulit mengukur secara tepat konsekuensi yang ditimbulkan oleh digisub dalam industri komersial.

Beberapa komunitas anime berpendapat bahwa digisubbing telah berubah fungsi yang semulanya berupa sebuah kultur fansub menjadi sesuatu yang tidak lebih daripada pembajakan sarana hiburan yang murah, dan bahkan menganggapnya sama dengan Zero day warez trading. Beberapa fansub bahkan muncul di situs-situs wares – meskipun hal itu disebabkan karena trader [warez]] yang kebetulan juga adalah fans anime, yang kemudian secara tidak sengaja berlanjut ke situs-situs yang menempatkan Anime dan materi pornografi di tempat yang sama.

Legal dan Isu Etikal

Fansub sejak dari semula memegang kode etik dan tidak menganggap diri mereka sebagai pembajak. Karena fansub dibuat oleh fans dan untuk fans, dan tidak ditujukan untuk keuntungan komersial, sebagian fans tahu benar bahwa fansub tidak boleh dijual untuk maksud keuntungan finansial. Fansub-fansub kalau tidak diberikan secara cuma-cuma biasanya dijual senilai dengan harga produksi (ongkos medium blank dan ongkos kirim). Banyak fansub bahkan dalam rilis mereka menyertakan kata kata seperti “This is a free fansub: not for sale, rent, or auction” (Ini fansub gratis : bukan untuk dijual, disewakan, atau dilelang!) yang terdapat di eyecatch dengan tujuan mencegah botlegger melanggar kode etik ini. Namun beberapa situs tetap saja mewajibkan membayar bulanan untuk dapat mendownload dengan menjanjikan bandwidth yang lebih besar.

Sebagian besar fansubber biasanya hanya mengerjakan material yang tidak terlisensi di area domestik tempat mereka berada. Apabila ada perusahaan domestik ayang membeli lisensi distribusi, maka fansub yang bersangkutan akan menghentikan rilisnya untuk judul yang sama. Dengan sebuah perkecualian, apabila licensor bermaksut untuk mengedit isi anime secara berat tanpa mengeluarkan versi uncut-nya, seperti dalam kasus berhubungan dengan 4Kids Entertainment.

Fansubber mengklaim posisi distribusi secara gratis selama tidak ada suatu badan yang memiliki lisensi untuk mendistribusikan Anime yang bersangkutan di region atau negara tempat distribusi fansub berada. Tapi hal ini melewati fakta bahwa hak cipta itu dihargai secara internasional dan tanpa batasan region meskipun tidak ada licensor yang membeli hak izin distribusi, pencipta aslinya masih tetap mempunyai wewenang atas hak milik mereka di seluas dunia. Argumen yang berbeda mengungkapkan fakta bahwa fansub diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak dapat berbicara bahasa aslinya dan tidak dapat menjangkau tayangannya yang dibroadcast atau tidak mempunyai akses untuk itu. Tanpa kelompok fansub, beberapa fan anime tidak mempunyai pilihan lain dalam memperoleh material yang bahkan seharusnya terkenal. Misalnya Yakitate!! Japan dan Gintama yang saat ini populer di kalangan komunitas fansub, namun tidak ada tanda tanda pembeli lisensi untuk Amerika Utara (berbahasa Inggris), dan kelihatannya perusahaan produksinya di Jepang tidak menunjukkan tanda-tanda mau merilis dengan subtitle professional ke luar negeri.

Pendukung fansub menunjuk pada akibat positif dalam publisitas perindustrian anime melalui fansub. Ada banyak kasus dimana beberapa lisensor pada mulanya meremehkan beberapa judul, dan kemudian belakangan membeli lisensinya setelah fansub membuat judul yang bersangkutan meledak dan populer. Salah satu contohnya adalah Azumanga Daioh, yang sekarang dilisensi oleh ADV Films. Dalam A-Kon ke 15 musim panas 2005, ADV mengakui bahwa mereka sebelumnya befpikir bahwa Azumanga Daioh tidak akan populer di Amerika. Kemudian belakangan ADV memutuskan untuk membeli lisensi anime ini setelah menyaksikan kepopulerannya dalam komunitas fansub.

John Sirabella dari Media Blasters belakangan terlibat dalam diskusi panjang dengan fans sehubungan dengan topik ini, dan mengungkapkan ” But let’s be honest, how many people download and never buy? If I have to count the number of people who come by my table and say I already downloaded that one, I would not need to release anymore titles. The idea that somehow everyone is honest and only downloads to preview and later buy is a fallacy. The other problem with downloads is that you convince the border line people to go download and not buy because it so easily available. The people who only download will always download and never buy but it is that bigger audience who than believe “downloads are okay, everyone does it.” ”

Peranan fansub telah berpengaruh besar dalam membuat anime menjadi populer yang kemudian dilirik oleh dua distributor besar. Dalam video promosi peluncuran The Melancholy of Haruhi Suzumiya lisensi Amerika, Kadokawa Pictures USA dan Bandai Entertainment secara spesial memberikan ucapan terimakasih kepada para pemirsa fansub dan menganjurkan mereka untuk membeli official rilisnya. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah [[Perusahaan Jepang]] mengakui dan menerima fansub, tapi tentu hal itu bukannya berarti mendukung fansub.

Para penentang fansubbing membalas dengan menunjuk kepada “sisi gelap” fansubbing. Dimana ketika sebagian besar fansubbing menghentikan distribusi ketika judul tersebut terlisensi di Amerika Utara, masih ada beberapa yang terus melanjutkan kegiatannya jauh setelah itu. Tentu ini bertentangan dengan kode etik dasar dari fansubbing. Apabila tayangan aslinya terpaut sangat jauh dengan yang terlisensi (Bleach, misalnya, baru dilisensi setelah sampai episode 70 an. Dan Naruto 150 an episode), maka beberapa fansub akan terus memproduksi episode-episode selanjutnya. Ketika Cartoon Network menayangkan Naruto episode 117 fansub memproduksi episode 245 dan lebih.

Ada beberapa contoh kasus dimna beberapa perusahaan yang memiliki lisensi dari keseluruhan seri dari sebuah judul hanya menrilis sebagian di Amerika. Seperti Sailor Moon dan Fist of North Star. Seperti yang disebutkan ‘Bishoujo Senshi Sailor Moon Sailor Stars’, seri terakhir dari Sailor Moon tidak pernah dirilis di Amerika, sedangkan Fist of North Star hanya dirilis bagian-bagian awal dari keseluruhan seri, berhenti di produksi di episode 36. Judul lainnya dengan kasus yang serupa adalah Air Master, Slam Dunk dan BT’x. Masalah ini memunculkan apa yang disebut daerah operasi abu-abu bagi para fansubber. Ketika misalnya semua episode Fist of the North Star terlisensi di Amerika, namun hanya sebagian dari episodenya saja yang tersedia. Fan yang ingin membeli keseluruhan serinya mendapatinya mustahil. Namun, fansub dapat mengambil perandan di sini.

Kritik kepada fansub selalu menyimpulkan bahwa distribusi digital berpengaruh negatif pada industri anime di Amerika. Namun, ada pendapat lain yang mengatakan bahwa fansub menciptakan sebuah fanbase yang memungkinkan pemegang hak cipta untuk “menjumlah laba bersih dari fans yang ‘sudah siap untuk mengeluarkan ribuan dolar untuk judul tersebut'” baik di Jepang maupun di Amerika. Seperti yang dibuktikan oleh komentar Sirabella, kasusnya tidak hanya demikian. Masalah lain yang muncul adalah beberapa kelompok yang mengunduh fansub kemudian menjadikannya bootleg DVD. Banyak Hootlegger Hong Kong yang merusak reputasi fansub, dengan mendistribusikan DVD bootleg dari fansub bahkan beserta peringatan “Tidak untuk dijualnya” juga. Aksesibilitas fansub dalam Internet menuntun ke aspek pembajakan lebih hebat ketimbang zaman fansub VHS.

Pertama, sebelum nge-sub, siapkan dulu Perlengkapan Fansub nya.

Kalau sudah, skrg di coba, btw Aegisub bisa di comot dari sini.
Untuk encode bisa dilihat disini.
Larikan Aegisub-nya, lalu akan terlihat tampilan default seperti ini.
Nah, sekarang comot video yg mau di sub, caranya di menu bar klik:
1. Video > Open Video…
2. Audio > Open Audio from Video…
setelah itu akan terlihat seperti ini.
Kita mulai~
1. Atur timingnya, biar mudah, klik kiri=waktu awal, klik kanan=waktu akhir.
2. Masukin dialognya, JANGAN LUPA KALAU SELESAI DI ENTER/TEKAN “Commit”
3. Nanti keluar dialognya
4. Dialognya nanti terurut berdasarkan waktu.
Eh kok, fontnya biasa saja?
Tenang, setelah ini kita ganti font-nya, di stylish, menicure, pedicure, creambath, berendam, pijet, totok panas, dan yoga.

Teken tombol “S” di atas, itu Style Manager buat ubah font.
Misal kayak gini.
Kalau udah diputuskan siapa pengantinnya font-nya yang dipakai, tinggal apply / OK, dan voila font-nya berubah.
Setelah proses NNNNGGGGHHHH selesai, kita gabung file video dan sub nya. Kita pake MKVmerge dari MKVtoolnix. Klik add > tambahkan ke dua file > klik start muxing.
Lalu keluar file baru hasil dari mancing Muxing tadi.
Coba di putar, sub-nya udah keluar tuh.
Jangan lupa INI SOFTSUB!!! bukan hardsub.